10 Juni 2009 Persija 1-2 Persib
19 Juli 2008 Persib 2-3 Persija
16 Agustus 2007 Persija 1-0 Persib
24 April 2007 Persib 3-0 Persija
20 Mei 2006 Persib 1-1 Persija
25 Februari 2006 Persija 0-0 Persib
4 September 2005 Persija 3-0 Persib [WO]
22 Mei 2005 Persib 1-1 Persija
29 September 2004 Persija 1-0 Persib
12 Mei 2004 Persib 0-0 Persija
Persija menang 4x
Persib menang 2x
seri 4x
"PERSIJA SLALU DIHATI"
Sabtu, 22 Mei 2010
Surat Untuk BP (Bambang Pamungkas)
Siapa yang tidak mengenal sosok Bambang Pamungkas, pesepakbola yang lahir di Getas sebuah kabupaten di Semarang pada tanggal 10 Juni 1980 yang merupakan Striker Team Persija Jakarta dan Timnas Indonesia. Memulai karir sepakbola profesionalnya bersama Persija Jakarta di umur yang relative masih muda 19 tahun. Sepanjang karirnya hingga saat ini, Bepe begitu biasa disapa sudah cukup malang melintang dalam pencapaiannya sebagai pesepakbola,selain membela Persija, Bepe juga pernah membela klub asal belanda EHC Hoensbroek Norad Holand pada tahun 2000 selama 4 bulan, dan memperkuat Selangor FC Malaysia, suatu pencapaian yang luar biasa untuk seorang pesapakbola local.
Prestasi yang sudah diraih tidak main – main sepanjang karirnya Bepe sudah mecetak 34 gol untuk tim nasional rekor baru yang sebelumnya dipegang oleh Kurniwan Dwi Julianto dengan 33 gol yang juga merupakan idolanya. Di Persija total bepe sudah membukukan sebanyak 115 gol dan selama karir di Selangor FC berhasil memasukan 61 gol.
Selain itu berikut rangkaian prestasi yang diraih bepe Atlet Harapan Terbaik versi Tabloid Bola Persija Jakarta (1999), Juara Hassanal Bolkiah Turnament Brunei Darussalam Persija Jakarta (2000), Pencetak Gol Terbanyak (Top Scorer) Liga Indonesia Persija Jakarta (2000), Pemain Terbaik Indonesia versi Media GO Persija Jakarta (2000), Juara Liga Indonesia Persija Jakarta (2000), Pemain Terbaik Liga Indonesia Persija Jakarta (2001), Pemain Terbaik Indonesia versi ANTV Persija Jakarta (2003), Pemain Terbaik Copa Djie Sam Soe Persija Jakarta (2007), Striker Terbaik Copa Djie Sam Soe Persija Jakarta (2007), Duet Terbaik Copa Djie Sam Soe Persija Jakarta (2007), Juara Sultan Selangor Cup Malaysia Selangor FC (2005), Juara Liga Perdana Malaysia Selangor FC (2005), Juara FA Cup Malaysia Selangor FC (2005), Juara Malaysia Cup Selangor FC (2005), Pemain Terbaik Malaysia Cup Selangor FC (2005).
Diusianya sekarang yang mungkin sudah tidak muda lagi Bepe sedang mengalami yang namanya fase – fase sulit sebagai pesepakbola, musim 2009 – 2010 bisa dibilang musim yang sulit bagi seorang Bepe, diawal musim sempat menunjukan kapasitasnya dengan terus mencetak gol untuk Persija, namun gol gol tersebut seakan enggan untuk mampir di dalam diri Bepe semenjak terakhir kali Bepe mencetak gol pada pertandingan melawan Bontang FC pada tanggal 27 Januari 2010 di GBK saat itu kedudukan akhir 3-0 untuk kemenangan Persija.
Entah faktor apa yang membuat pemain yang terkenal dengan lompatan dan heading yang oke punya begitu sulit untuk mencetak gol. Coba mendengar dari respon teman – teman pecinta Persija dan pecinta Bepe, ada beberapa alasan –alasan menarik, seperti “percaya diri bepe gy mnrun , so performa'y mnrun itu jg karna fktor usia..usia bepe hmpir 30thn..tp bepe ampe mati lah.. ada lagi ” Kurang lucky aj bos..Mgkn utk smentara BP d'cdangkn dulu aj supaya dy introspeksi n faktor lucky dy kembali.. Tp gw ga akan lupakn jasa dy membawa Persija Juara..” ada yang bilang salah nempatin posisi bepe seperti komen berikut “posisinya ga kya dulu..biasanya kan dia jdi ujung tombak..tpi skrg dia trlalu turun ke belakang” selain itu ada juga yang komentar seperti ini bepe??ikon persija yang naluri dalam mencetak gol nya lagi buntu...yang bisa nyelesain masalh bepe hanya bepe sendiri ada juga komen “bepe udah top karir.. jadi berharap menanjak rasanya sudah sulit.. yg penting bagaimana mempertahankan performa yg bagus”
Serta komen – komen yang tidak memperdulikan apa dan kenapa Bepe seperti saat ini “Karena BP seorang pemain yg bisa dibilang icon sepakbola Indonesia, maka'a kalo BP lagi gak bagus semua orang pada komen: BP turun, BP udah abis, BP udah tua! Padahal, hampir semua pemain pernah ngalamin masa2 seperti BP saat ini, tapi karena kepopuleran mereka gak seperti BP, jadi gak ada berita tentang penurunan perform mereka! Intinya gw tetap mendukung semua punggawa PERSIJA dengan kondisi apapun!,,” ada lagi komen seperti ini “bebaskan sejenak bebanmu kawan (BP)... Lupakan nama besarmu & hilangkan faktor x sebagai pelecutmu Tapi jangan lupa & hilangkan loyalitasmu buat Persija!”
Gw cuma berharap dengan semua kritikan – kritikan yang coba gw kumpulin dari beberapa pendapat anak – anak walaupun mungkin masih banyak lagi yang lain yang ga bisa dimasukin bisa menjadi pemacu semangat seorang THE GOAL FATHER untuk tetap bisa berada dijalur yang selama ini sudah diraihnya, pertahankan prestasi yang ada, tingkatkan terus jangan malah menurun kami yakin kamu (BAMBANG PAMUNGKAS) belum habis !!!
Seperti lirik lagu yang di tambahkan oleh Bung Ferry yang cocok menggambarkan seorang Bepe lagu ciptaan Guruh Sukarno Putra yang dinyanyikan oleh Achmad Albar pada tahun 80an
ooooo.... bagai raja diraja
dikala seseorang ...sedang..mengalami jaya
semua orang menyanjung nyanjung dan memuja
semua orang mengelu elu dan memuji
tapi bila telah tak terpakai......
ia dihina..... dicaci..... dinista....dimaki...
seakan tak pernah ia berjasa
seakan ia makhluk tak bergunaaaa
namun tingkah secercah
tak akan pernah musnah
walau ... dihapuskan
suatu saat kan tiba
mata umat terbuka
tinggal sesal dan sesal... tinggal sesal dan sesal
Seperti kami juga yang kangen akan nyanyian seperti ini “Bambang Pamungkas Macannya Persija bola ditendang langsung masuk ke gawang sorak – sorak The Jak bergembira hari ini raih poin 3” *zni
#sumber : www.bambangpamungkas20.com, dan komentar – komentar di FB
www.jakmania.org
Prestasi yang sudah diraih tidak main – main sepanjang karirnya Bepe sudah mecetak 34 gol untuk tim nasional rekor baru yang sebelumnya dipegang oleh Kurniwan Dwi Julianto dengan 33 gol yang juga merupakan idolanya. Di Persija total bepe sudah membukukan sebanyak 115 gol dan selama karir di Selangor FC berhasil memasukan 61 gol.
Selain itu berikut rangkaian prestasi yang diraih bepe Atlet Harapan Terbaik versi Tabloid Bola Persija Jakarta (1999), Juara Hassanal Bolkiah Turnament Brunei Darussalam Persija Jakarta (2000), Pencetak Gol Terbanyak (Top Scorer) Liga Indonesia Persija Jakarta (2000), Pemain Terbaik Indonesia versi Media GO Persija Jakarta (2000), Juara Liga Indonesia Persija Jakarta (2000), Pemain Terbaik Liga Indonesia Persija Jakarta (2001), Pemain Terbaik Indonesia versi ANTV Persija Jakarta (2003), Pemain Terbaik Copa Djie Sam Soe Persija Jakarta (2007), Striker Terbaik Copa Djie Sam Soe Persija Jakarta (2007), Duet Terbaik Copa Djie Sam Soe Persija Jakarta (2007), Juara Sultan Selangor Cup Malaysia Selangor FC (2005), Juara Liga Perdana Malaysia Selangor FC (2005), Juara FA Cup Malaysia Selangor FC (2005), Juara Malaysia Cup Selangor FC (2005), Pemain Terbaik Malaysia Cup Selangor FC (2005).
Diusianya sekarang yang mungkin sudah tidak muda lagi Bepe sedang mengalami yang namanya fase – fase sulit sebagai pesepakbola, musim 2009 – 2010 bisa dibilang musim yang sulit bagi seorang Bepe, diawal musim sempat menunjukan kapasitasnya dengan terus mencetak gol untuk Persija, namun gol gol tersebut seakan enggan untuk mampir di dalam diri Bepe semenjak terakhir kali Bepe mencetak gol pada pertandingan melawan Bontang FC pada tanggal 27 Januari 2010 di GBK saat itu kedudukan akhir 3-0 untuk kemenangan Persija.
Entah faktor apa yang membuat pemain yang terkenal dengan lompatan dan heading yang oke punya begitu sulit untuk mencetak gol. Coba mendengar dari respon teman – teman pecinta Persija dan pecinta Bepe, ada beberapa alasan –alasan menarik, seperti “percaya diri bepe gy mnrun , so performa'y mnrun itu jg karna fktor usia..usia bepe hmpir 30thn..tp bepe ampe mati lah.. ada lagi ” Kurang lucky aj bos..Mgkn utk smentara BP d'cdangkn dulu aj supaya dy introspeksi n faktor lucky dy kembali.. Tp gw ga akan lupakn jasa dy membawa Persija Juara..” ada yang bilang salah nempatin posisi bepe seperti komen berikut “posisinya ga kya dulu..biasanya kan dia jdi ujung tombak..tpi skrg dia trlalu turun ke belakang” selain itu ada juga yang komentar seperti ini bepe??ikon persija yang naluri dalam mencetak gol nya lagi buntu...yang bisa nyelesain masalh bepe hanya bepe sendiri ada juga komen “bepe udah top karir.. jadi berharap menanjak rasanya sudah sulit.. yg penting bagaimana mempertahankan performa yg bagus”
Serta komen – komen yang tidak memperdulikan apa dan kenapa Bepe seperti saat ini “Karena BP seorang pemain yg bisa dibilang icon sepakbola Indonesia, maka'a kalo BP lagi gak bagus semua orang pada komen: BP turun, BP udah abis, BP udah tua! Padahal, hampir semua pemain pernah ngalamin masa2 seperti BP saat ini, tapi karena kepopuleran mereka gak seperti BP, jadi gak ada berita tentang penurunan perform mereka! Intinya gw tetap mendukung semua punggawa PERSIJA dengan kondisi apapun!,,” ada lagi komen seperti ini “bebaskan sejenak bebanmu kawan (BP)... Lupakan nama besarmu & hilangkan faktor x sebagai pelecutmu Tapi jangan lupa & hilangkan loyalitasmu buat Persija!”
Gw cuma berharap dengan semua kritikan – kritikan yang coba gw kumpulin dari beberapa pendapat anak – anak walaupun mungkin masih banyak lagi yang lain yang ga bisa dimasukin bisa menjadi pemacu semangat seorang THE GOAL FATHER untuk tetap bisa berada dijalur yang selama ini sudah diraihnya, pertahankan prestasi yang ada, tingkatkan terus jangan malah menurun kami yakin kamu (BAMBANG PAMUNGKAS) belum habis !!!
Seperti lirik lagu yang di tambahkan oleh Bung Ferry yang cocok menggambarkan seorang Bepe lagu ciptaan Guruh Sukarno Putra yang dinyanyikan oleh Achmad Albar pada tahun 80an
ooooo.... bagai raja diraja
dikala seseorang ...sedang..mengalami jaya
semua orang menyanjung nyanjung dan memuja
semua orang mengelu elu dan memuji
tapi bila telah tak terpakai......
ia dihina..... dicaci..... dinista....dimaki...
seakan tak pernah ia berjasa
seakan ia makhluk tak bergunaaaa
namun tingkah secercah
tak akan pernah musnah
walau ... dihapuskan
suatu saat kan tiba
mata umat terbuka
tinggal sesal dan sesal... tinggal sesal dan sesal
Seperti kami juga yang kangen akan nyanyian seperti ini “Bambang Pamungkas Macannya Persija bola ditendang langsung masuk ke gawang sorak – sorak The Jak bergembira hari ini raih poin 3” *zni
#sumber : www.bambangpamungkas20.com, dan komentar – komentar di FB
www.jakmania.org
Mencari Fakta Bukan Pembenaran ( Tur Jepara )
catatan :adzani alwianto
The Jakmania kembali disorot lagi – lagi pemberitaan miring mengenai tingkah laku The Jak yang buruk yang sebenarnya tidak terjadi. Pemberitaan ini dimulai dari keberangkatan rombongan The Jak ke Jepara untuk mendukung team kesayangannya dalam Lanjutan ISL melawan tuan rumah Persijap Jepara (15/10).
Keberangkatan ke Jepara dibagi dalam beberapa kloter yang total keseluruhan berjumlah kurang lebih 1000 orang yang mengorenkan Jepara. Keberangkatan tur kali ini menggunakan moda transportasi darat yakni bis. Jika ditotal bis yang berangkat mencapai kurang lebih 20an bis. Tidak mudah memang mengkoordinir rombongan dalam jumlah besar, tapi semua telah di atur sedemikian rupa sehingga semua bisa sampai ke Jepara dan pulang kembali ke Jakarta dengan selamat.
Bukan menyalahkan keadaan, seperti biasa keberangkatan tur The Jak yang hampir pasti melewati daerah Jawa Barat yang “identik” rivalitas dengan suporter yang berada di wilayah itu mengundang ancaman, dan penyerangan – penyerangan. Itu terjadi baik saat keberangkatan maupun kepulangan rombongan.
Tentu saja berita – berita kerusuhan seperti ini menjadi sasaran empuk media untuk memblow – up ke publik. Terbukti berita penyerangan yang sebenarnya tidak akan terjadi apabila pihak dari rival The Jak tidak memulai dengan cepatnya tersebar.
Namun yang sangat disayangkan, kenapa berita yang beredar dibeberapa stasiun tv swasta menggambarkan The Jak yang menyebabkan semua ini terjadi, dan The Jak pula yang disudutkan telah mengakibatkan kerugian baik itu korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur. Padahal berita yang ada tidak sepenuhnya benar, malah cenderung melebih – lebihkan untuk lebih menarik orang untuk melihatnya.
Setelah coba ditelusuri ke beberapa sumber lainnya, ternyata masih ada yang benar – benar memberitakan kejadian yang terjadi dilapangan, info tersebut sangat membantu menetralisir keadaan sebelumnya yang sudah tercipta karena pemberitaan di media televisi.
Seperti dikutip dari sebuah media cetak kutipan beritanya sebagai berikut “Cikampek- Seorang yang dianggap suporter Persib Bandung (viking) babak belur dihajar suporter Jakmania dipertigaan pintu tol Cikopo Cikampek, Minggu (16/05) pagi.korban bernama Din Syamsudin (19) warga Jatisari Cikampek. akibat luka yang serius, maka korban dilarikan ke rumah sakit etaham purwakarta.
Menurut sejumlah saksi mata, kejadian tersebut terjadi ketika para suporter Persija Jakarta menuju pulang usai menyaksikan tim kesayangannya bertanding di Jepara. ketika itu terdapat sekitar 12 bus yang ditumpangi para suporter paersija melintasi gerbang tol Cikopo, seseorang melempari salah satu bus yang ditumpangi para suporter tersebut. sontak Jakmania marah dan tidak terima perlakuan tersebut, hampir seluruh Jakmania turun ke jalan mengejar pelaku pelemparan tersebut. tetapi pelaku berhasil lari dan bersembunyi. karena tidak mendapatkan pelakunya para jakmania pun masuk kembali kedalam bus, dan sebagian lagi melakukan sweeping ke tempat persembunyian pelaku.
Akhirnya mereka menemukan salah satu yang diduga pelaku pelemparan terhadap rombongan suporter tersebut. tanpa tanya lagi, ratusan the jak mengeroyok pelaku yang menumpang angkot jurusan cikampek-purwakarta (43). Din akhirnya digusur keluar, bukan hanya Din. tetapi mobil angkot yang ditumpanginya pun tak luput dari amukan sang macan. Setelah Din babak belur dan tersungkur di aspal, lalu sejumlah warga menolong korban.”
Mudah – mudahan dengan adanya pemberitaan yang memang benar – benar terjadi dilapangan masyarakat bisa menilai. Seperti slogan The Jak “Lo asik gw nyantai , Lo Usik Gw Bantai”, atau dengan bahasa yang lebih sopan “kalo tidak mau dicubit jangan cubit duluan”.
Sekali lagi disini ditekankan kami tidak melakukan pembenaran dengan apa yang sudah kami lakukan dengan membuat keributan di Cikampek, tapi kalo tidak ada yang memulai semuanya akan berjalan baik – baik saja. Jangan lihat kami dari sisi negatifnya saja. Kami Bukan Yang Terbaik Tapi Berusaha Menjadi Baik.
*dihimpun dari berbagai sumber, makasih buat Jak Cikampek yang udah mengawal rombongan selama berada di daerah Cikampek dan sekitarnya.
The Jakmania kembali disorot lagi – lagi pemberitaan miring mengenai tingkah laku The Jak yang buruk yang sebenarnya tidak terjadi. Pemberitaan ini dimulai dari keberangkatan rombongan The Jak ke Jepara untuk mendukung team kesayangannya dalam Lanjutan ISL melawan tuan rumah Persijap Jepara (15/10).
Keberangkatan ke Jepara dibagi dalam beberapa kloter yang total keseluruhan berjumlah kurang lebih 1000 orang yang mengorenkan Jepara. Keberangkatan tur kali ini menggunakan moda transportasi darat yakni bis. Jika ditotal bis yang berangkat mencapai kurang lebih 20an bis. Tidak mudah memang mengkoordinir rombongan dalam jumlah besar, tapi semua telah di atur sedemikian rupa sehingga semua bisa sampai ke Jepara dan pulang kembali ke Jakarta dengan selamat.
Bukan menyalahkan keadaan, seperti biasa keberangkatan tur The Jak yang hampir pasti melewati daerah Jawa Barat yang “identik” rivalitas dengan suporter yang berada di wilayah itu mengundang ancaman, dan penyerangan – penyerangan. Itu terjadi baik saat keberangkatan maupun kepulangan rombongan.
Tentu saja berita – berita kerusuhan seperti ini menjadi sasaran empuk media untuk memblow – up ke publik. Terbukti berita penyerangan yang sebenarnya tidak akan terjadi apabila pihak dari rival The Jak tidak memulai dengan cepatnya tersebar.
Namun yang sangat disayangkan, kenapa berita yang beredar dibeberapa stasiun tv swasta menggambarkan The Jak yang menyebabkan semua ini terjadi, dan The Jak pula yang disudutkan telah mengakibatkan kerugian baik itu korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur. Padahal berita yang ada tidak sepenuhnya benar, malah cenderung melebih – lebihkan untuk lebih menarik orang untuk melihatnya.
Setelah coba ditelusuri ke beberapa sumber lainnya, ternyata masih ada yang benar – benar memberitakan kejadian yang terjadi dilapangan, info tersebut sangat membantu menetralisir keadaan sebelumnya yang sudah tercipta karena pemberitaan di media televisi.
Seperti dikutip dari sebuah media cetak kutipan beritanya sebagai berikut “Cikampek- Seorang yang dianggap suporter Persib Bandung (viking) babak belur dihajar suporter Jakmania dipertigaan pintu tol Cikopo Cikampek, Minggu (16/05) pagi.korban bernama Din Syamsudin (19) warga Jatisari Cikampek. akibat luka yang serius, maka korban dilarikan ke rumah sakit etaham purwakarta.
Menurut sejumlah saksi mata, kejadian tersebut terjadi ketika para suporter Persija Jakarta menuju pulang usai menyaksikan tim kesayangannya bertanding di Jepara. ketika itu terdapat sekitar 12 bus yang ditumpangi para suporter paersija melintasi gerbang tol Cikopo, seseorang melempari salah satu bus yang ditumpangi para suporter tersebut. sontak Jakmania marah dan tidak terima perlakuan tersebut, hampir seluruh Jakmania turun ke jalan mengejar pelaku pelemparan tersebut. tetapi pelaku berhasil lari dan bersembunyi. karena tidak mendapatkan pelakunya para jakmania pun masuk kembali kedalam bus, dan sebagian lagi melakukan sweeping ke tempat persembunyian pelaku.
Akhirnya mereka menemukan salah satu yang diduga pelaku pelemparan terhadap rombongan suporter tersebut. tanpa tanya lagi, ratusan the jak mengeroyok pelaku yang menumpang angkot jurusan cikampek-purwakarta (43). Din akhirnya digusur keluar, bukan hanya Din. tetapi mobil angkot yang ditumpanginya pun tak luput dari amukan sang macan. Setelah Din babak belur dan tersungkur di aspal, lalu sejumlah warga menolong korban.”
Mudah – mudahan dengan adanya pemberitaan yang memang benar – benar terjadi dilapangan masyarakat bisa menilai. Seperti slogan The Jak “Lo asik gw nyantai , Lo Usik Gw Bantai”, atau dengan bahasa yang lebih sopan “kalo tidak mau dicubit jangan cubit duluan”.
Sekali lagi disini ditekankan kami tidak melakukan pembenaran dengan apa yang sudah kami lakukan dengan membuat keributan di Cikampek, tapi kalo tidak ada yang memulai semuanya akan berjalan baik – baik saja. Jangan lihat kami dari sisi negatifnya saja. Kami Bukan Yang Terbaik Tapi Berusaha Menjadi Baik.
*dihimpun dari berbagai sumber, makasih buat Jak Cikampek yang udah mengawal rombongan selama berada di daerah Cikampek dan sekitarnya.
kisah sukses pengusaha ritel
Pada suatu musim panas tahun 1981 di Miami Amerika Serikat. Seorang remaja cerdas berusia 17 tahun nyambi kerja sebagai juru masak di Mc Donald’s Miami. Kelak di kemudian hari, nama remaja itu termasuk yang sering disebut-sebut dalam jagad industri internet.
Dialah Jeff Bezos, pendiri Amazon.com, website yang semula hanya menjual buku secara online namun kemudian menjual beberapa barang lainnya. Berkat kesuksesan Amazon.com, namanya tercatat dalam jajaran orang-orang terkaya sedunia. Beberapa kali wajahnya sempat menjadi cover majalah seperti Time dan Fortune.
Sebelum mendirikan Amazon.com, Jeff Bezos juga mengalami siklus seperti kebanyakan orang. Habis lulus dari Universitas Princeton, dia bekerja sebagai orang kantoran. Dimulai bekerja di FITEL, sebuah perusahan jaringan telekomunikasi. Walaupun di FITEL karirnya bagus dengan mencapai kursi wakil direktur dalam 2 tahun, namun itu tidak menghentikan proses penempaan dirinya.
Dia pindah kerja ke bank ternama Bankers Trust. Ketika jabatan wakil presiden direktur diraihnya, dia memutuskan mengundurkan diri. Namun kembali datang tawaran bekerja. Jeff Bezos lalu menerima tawaran dari DE Shaw & co, perusahaan software pemantau perkembangan harga saham. Di sana, karirnya terus menanjak naik sampai akhirnya menjadi wakil presiden direktur Shaw & Co pada usia 28 tahun. Namun, lagi-lagi Jeff Bezos tidak betah.
Ya, Jeff Bezos akhirnya bisa membuktikan ide yang ditolak oleh bosnya. Keberanian dan sikap optimis telah mengantarkannya menjadi online entrepreneur luar biasa. Mengenai internet sendiri, Jeff Bezos kurang lebih pernah mengatakan begini:
Saya akan sangat menyesal seandainya tidak mengenal internet. Sekalipun setelah saya mencoba berbisnis lewat internet dan mungkin saja gagal, tetapi saya tidak akan pernah menyesalinya.
sumber : www.siswonugroho.com
Dialah Jeff Bezos, pendiri Amazon.com, website yang semula hanya menjual buku secara online namun kemudian menjual beberapa barang lainnya. Berkat kesuksesan Amazon.com, namanya tercatat dalam jajaran orang-orang terkaya sedunia. Beberapa kali wajahnya sempat menjadi cover majalah seperti Time dan Fortune.
Sebelum mendirikan Amazon.com, Jeff Bezos juga mengalami siklus seperti kebanyakan orang. Habis lulus dari Universitas Princeton, dia bekerja sebagai orang kantoran. Dimulai bekerja di FITEL, sebuah perusahan jaringan telekomunikasi. Walaupun di FITEL karirnya bagus dengan mencapai kursi wakil direktur dalam 2 tahun, namun itu tidak menghentikan proses penempaan dirinya.
Dia pindah kerja ke bank ternama Bankers Trust. Ketika jabatan wakil presiden direktur diraihnya, dia memutuskan mengundurkan diri. Namun kembali datang tawaran bekerja. Jeff Bezos lalu menerima tawaran dari DE Shaw & co, perusahaan software pemantau perkembangan harga saham. Di sana, karirnya terus menanjak naik sampai akhirnya menjadi wakil presiden direktur Shaw & Co pada usia 28 tahun. Namun, lagi-lagi Jeff Bezos tidak betah.
Ya, Jeff Bezos akhirnya bisa membuktikan ide yang ditolak oleh bosnya. Keberanian dan sikap optimis telah mengantarkannya menjadi online entrepreneur luar biasa. Mengenai internet sendiri, Jeff Bezos kurang lebih pernah mengatakan begini:
Saya akan sangat menyesal seandainya tidak mengenal internet. Sekalipun setelah saya mencoba berbisnis lewat internet dan mungkin saja gagal, tetapi saya tidak akan pernah menyesalinya.
sumber : www.siswonugroho.com
Minggu, 16 Mei 2010
Cinta Itu Mengalahkan Segalanya
Cinta Itu Mengalahkan Segalanya
Ditulis Oleh: Bepe,
kategori:Persija
Dalam beberapa minggu terakhir, di kalangan masyarakat sepakbola terdapat banyak pergunjingan tentang masa depan saya. Banyak orang mulai berspekulasi, tentang kemana kira-kira saya akan bermain pada musim yang akan datang. Mengingat musim kompetisi yang sebentar lagi mulai bergulir, dan saya masih belum menentukan pilihan, tentu hal itu menjadi sesuatu berdebatan yang sangat wajar…
Saya tidak pernah menampik, jika memang ada beberapa tim yang menghubungi saya dan meminta kesediaan saya untuk membela panji mereka musim depan. Dan sejujurnya tim-tim tersebut memberikan penawaran yang sangat menarik, baik dari segi materi, kesempatan untuk meraih gelar maupun pengalaman baru dalam level yang lebih tinggi…
Dalam sebuah wawancara dengan salah satu TV swasta, saya pernah mengemukakan sebuah statemen, yang kurang lebih berisi demikian:
“Saya mencintai Persija dan saya merasa sangat nyaman berada di sini, sehingga saya akan berusaha sekuat tenaga saya untuk bertahan di tim ini. Akan tetapi mengingat Persija sendiri masih terlihat sangat sibuk dengan masalah intern mereka yang tak kunjung usai, maka saya pun sudah mulai menyiapkan mental saya jika nantinya saya harus meninggalkan Persija”
Ada beberapa tim yang menghubungi saya diantaranya Sriwijaya FC, Persib Bandung dan Persikad Depok, di samping itu saya juga mendapat kesempatan untuk kembali ke Selangor FC, Malaysia. Seperti yang saya kemukakan di awal tadi, jika tim-tim di atas memberikan penawaran yang sangat menarik dalam berbagai hal. Dalam kesempatan kali ini saya akan sedikit ceritakan bagaimana situasinya…
Tim yang paling serius adalah Sriwijaya FC, saya sudah berbicara dengan pelatih mereka Pak Rahmad dan juga Pak Bakti selaku wakil dari managemen, serta Pak Dodi sebagai Presiden Direktur PT SOM. Dari segi materi, Sriwijaya berani memberikan penawaran yang sangat menarik, mereka juga menawarkan kesempatan meraih gelar (mengingat materi pemain Sriwijaya boleh dikatakan The Dream Team musim depan), terlebih lagi mereka menawarkan sebuah tantangan baru di mana saya rasa setiap pemain menginginkan hal itu, yaitu berlaga di Liga Champion Asia…
Persib Bandung juga cukup serius dalam mendekati saya, salah satunya ditunjukan ketika sesaat setelah pertandingan Piala Selangor antara Selangor FC vs Persib Bandung, Pak Umuh mewakili managemen Persib sempat mengundang saya ke Hotel Grand Quality Shah Alam untuk membicarakan kemungkinan saya menyeberang ke Bandung. Pak Umuh banyak bercerita tentang visi dan proyeksi ke depan tim Persib yang sejujurnya cukup menarik di mata saya. Bahkan beliau juga sempat mengundang saya untuk datang ke Bandung bersama keluarga untuk membicarakan hal-hal yang lebih detail sambil berlibur…
Sedangkan tawaran dari Persikad Depok sendiri, sebenarnya lebih kepada sebuah kecelakaan menurut saya, akan tetapi tawaran tersebut tidak bisa saya pungkiri juga cukup menarik. Saat itu ketika saya pulang dari Kuala Lumpur, saya mendapat telepon dari Ismed Sofyan yang mengatakan jika Pak Edy Joenardi ingin bertemu dengan saya, Ismed Sofyan, Aliyudin dan Leo Saputra. Mengingat saat itu gencar diberitakan bahwa sosok Edy joenardi akan mengambil alih Persija, maka saya sangat antusias dengan berita dari Ismed tersebut. Yang ada di benak saya adalah Pak Edy mewakili Persija akan berbicara dengan kami, tentu hal tersebut cukup menggembirakan…
Akan tetapi ketika kami bertemu, bukannya membicarakan tentang Persija akan tetapi Pak Edy malah membicarakan kemungkinan kami berempat untuk menjadi punggawa Persikad Depok. Sejujurnya saat itu saya sangat terkejut dan sedikit jengkel, oke dari segi materi memang mereka menawarkan nominal yang sangat tinggi, akan tetapi itu semua jauh dari apa yang ada dalam benak saya mengenai pertemuan siang itu…
Mengenai Selangor, ehm.. saya mempunyai kenangan yang indah bersama tim ini. Selangor adalah raksasa sepakbola Malaysia yang mempunyai sejarah panjang, 33 kali juara Piala Malaysia adalah buktinya. Akan selalu menyenangkan dapat kembali ke sana, dan itu adalah salah satu alasan saya menerima ajakan Selangor untuk bermain dalam Piala Selangor melawan Persib Bandung. Suasana Stadion Shah Alam tidak pernah berubah, malam itu kenangan 3 tahun yang lalu seakan terulang kembali, apalagi malam itu saya mampu menyumbangkan 2 gol dan mengantar Selangor mengalahkan Persib Bandung…
Penawaran-penawaran di atas jelas membuat saya merasa sangat bimbang. Secara pribadi saya masih ingin bertahan di Persija, akan tetapi tim ini terkesan pasif dengan tidak segera memberikan kabar. Sejujurnya, saya hampir saja bergabung dengan Sriwijaya FC, melalui Pak Bakti saya sempat menyampaikan bahwa 80% saya bersedia bergabung dengan mereka, akan tetapi saya meminta waktu untuk meyakinkan hati saya, bahwa pada akhirnya saya harus membela tim lain selain Persija di Indonesia…
Saya juga menyampaikan, jika Sriwijaya masih mau menunggu, maka saya akan berterima kasih, akan tetapi jika Sriwijaya memutuskan untuk membatalkan rencana mereka, saya juga bisa menerima keputusan itu. Setelah itu Sriwijaya tidak pernah lagi menghubungi saya, sehingga saya anggap mereka membatalkan rencana untuk merekrut diri saya…
Mengenai Persib Bandung, apa yang terjadi lebih kepada saya tidak ingin mengkhianati diri saya, Persija dan The Jakmania. Karena tentu akan sangat menyakitkan buat semua pihak, jika saya sampai bergabung dengan Persib Bandung, mengingat rivalitas antara Persija dan Persib sudah menjadi tradisi serta begitu mengakar…
Untuk Persikad Depok, bukannya saya anti untuk berlaga di divisi utama. Akan tetapi, saya masih berkeinginan untuk bermain di level Liga Super. Di samping untuk merasakan atmosfer yang jelas lebih menantang, lebih daripada itu saya ingin menjaga peluang saya untuk tetap bisa membela Tim Nasional Indonesia. Sehingga nominal tinggi yang mereka ajukan, sama sekali tidak membuat diri saya bergeming…
Mengenai Selangor sendiri, mereka memang sudah membicarakan kemungkinan saya untuk kembali. Akan tetapi, masalah terbesarnya adalah regulasi di Malaysia, yang belum bisa memastikan jika kompetisi Malaysian Super League boleh menggunakan pemain asing kembali atau tidak. Hal tersebut baru akan dibicarakan lagi setelah musim ini berakhir. Sedangkan Malaysian Super League sendiri baru akan berakhir bulan Oktober, sehingga akan sangat terlambat bagi saya pribadi untuk mengambil keputusan tersebut…
Terlebih lagi mengingat akhir-akhir ini hubungan Indonesia-Malaysia yang semakin memanas, sehingga membuat saya dan keluarga akan merasa sedikit kurang nyaman dengan situasi ini, jika nantinya saya memutuskan bermain di sana kembali…
Dengan pertimbangan di atas, akhirnya saya menetapkan hati untuk bertahan di Persija dengan apa pun konsekuensinya .Dan gayung pun bersambut, pada suatu pagi saya dan Ismed sofyan didampingi Bung Ferry, mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Pak Harianto Bajoeri dan Pak Gubernur Fauzi Bowo, guna menanyakan serta membahas kelangsungan tim Persija selepas gagalnya Edy Joenardi Group mengakuisi Persija. Dan tanpa menunggu waktu lama, Bang Foke langsung memberikan instruksi kepada Pak Harianto Bajoeri untuk segera membentuk tim Persija untuk mengarungi kompetisi ISL musim depan…
Mungkin dari segi nominal harga, apa yg akan saya dapatkan di Persija masih di bawah apa yg ditawarkan Sriwijaya, Persikad, Selangor FC atau bahkan di bawah pendapatan saya musim lalu. Dari segi materi tim dan peluang juara, mungkin Sriwijaya dan Persib sedikit di atas, yang memang sangat terlambat dalam membentuk tim. Dari segi tantangan, mungkin Sriwijaya dan Selangor akan memberikan saya pengalaman yang sangat berharga, dengan tampil di Asian Champions League musim depan. Akan tetapi semua itu dapat saya kesampingkan karena “Kecintaan saya terhadap Persija”…
Saya pasti bangga jika mampu menjadi juara dan tampil di Asian Champions League bersama Sriwijaya FC atau Selangor FC. Akan tetapi, saya pasti akan merasa lebih bangga jika saya mampu meraih itu semua bersama Persija Jakarta, tim yang telah membesarkan nama saya dan telah memberikan banyak hal kepada perkembangan karir saya…
Persija memang tengah mengalami krisis finansial, sehingga tidak mampu memberi seperti apa yang tim lain mampu berikan kepada saya. Akan tetapi sekali lagi, selama 9 musim saya bermain untuk Persija, tim ini telah memberikan banyak hal kepada diri saya. Sehingga tidak ada salahnya, jika di saat tim ini sedang mengalami masalah dan sedikit terpuruk, saya melakukan sedikit hal yang saya mampu, untuk balik menolong tim ini…
Saya rela memotong pendapatan saya, agar Persija mampu mendatangkan pemain baru yang berkualitas, guna menyongsong musim baru nanti. Sehingga Persija tetap mampu bersaing memburu gelar terbaik di musim depan…
Ternyata memang benar pepatah yg mengatak bahwa: “Cinta Itu Buta” dan pada kenyataannya..
“CINTA ITU MENGALAHKAN SEGALANYA”…
sumber : www.bambangpamungkas20.com
Ditulis Oleh: Bepe,
kategori:Persija
Dalam beberapa minggu terakhir, di kalangan masyarakat sepakbola terdapat banyak pergunjingan tentang masa depan saya. Banyak orang mulai berspekulasi, tentang kemana kira-kira saya akan bermain pada musim yang akan datang. Mengingat musim kompetisi yang sebentar lagi mulai bergulir, dan saya masih belum menentukan pilihan, tentu hal itu menjadi sesuatu berdebatan yang sangat wajar…
Saya tidak pernah menampik, jika memang ada beberapa tim yang menghubungi saya dan meminta kesediaan saya untuk membela panji mereka musim depan. Dan sejujurnya tim-tim tersebut memberikan penawaran yang sangat menarik, baik dari segi materi, kesempatan untuk meraih gelar maupun pengalaman baru dalam level yang lebih tinggi…
Dalam sebuah wawancara dengan salah satu TV swasta, saya pernah mengemukakan sebuah statemen, yang kurang lebih berisi demikian:
“Saya mencintai Persija dan saya merasa sangat nyaman berada di sini, sehingga saya akan berusaha sekuat tenaga saya untuk bertahan di tim ini. Akan tetapi mengingat Persija sendiri masih terlihat sangat sibuk dengan masalah intern mereka yang tak kunjung usai, maka saya pun sudah mulai menyiapkan mental saya jika nantinya saya harus meninggalkan Persija”
Ada beberapa tim yang menghubungi saya diantaranya Sriwijaya FC, Persib Bandung dan Persikad Depok, di samping itu saya juga mendapat kesempatan untuk kembali ke Selangor FC, Malaysia. Seperti yang saya kemukakan di awal tadi, jika tim-tim di atas memberikan penawaran yang sangat menarik dalam berbagai hal. Dalam kesempatan kali ini saya akan sedikit ceritakan bagaimana situasinya…
Tim yang paling serius adalah Sriwijaya FC, saya sudah berbicara dengan pelatih mereka Pak Rahmad dan juga Pak Bakti selaku wakil dari managemen, serta Pak Dodi sebagai Presiden Direktur PT SOM. Dari segi materi, Sriwijaya berani memberikan penawaran yang sangat menarik, mereka juga menawarkan kesempatan meraih gelar (mengingat materi pemain Sriwijaya boleh dikatakan The Dream Team musim depan), terlebih lagi mereka menawarkan sebuah tantangan baru di mana saya rasa setiap pemain menginginkan hal itu, yaitu berlaga di Liga Champion Asia…
Persib Bandung juga cukup serius dalam mendekati saya, salah satunya ditunjukan ketika sesaat setelah pertandingan Piala Selangor antara Selangor FC vs Persib Bandung, Pak Umuh mewakili managemen Persib sempat mengundang saya ke Hotel Grand Quality Shah Alam untuk membicarakan kemungkinan saya menyeberang ke Bandung. Pak Umuh banyak bercerita tentang visi dan proyeksi ke depan tim Persib yang sejujurnya cukup menarik di mata saya. Bahkan beliau juga sempat mengundang saya untuk datang ke Bandung bersama keluarga untuk membicarakan hal-hal yang lebih detail sambil berlibur…
Sedangkan tawaran dari Persikad Depok sendiri, sebenarnya lebih kepada sebuah kecelakaan menurut saya, akan tetapi tawaran tersebut tidak bisa saya pungkiri juga cukup menarik. Saat itu ketika saya pulang dari Kuala Lumpur, saya mendapat telepon dari Ismed Sofyan yang mengatakan jika Pak Edy Joenardi ingin bertemu dengan saya, Ismed Sofyan, Aliyudin dan Leo Saputra. Mengingat saat itu gencar diberitakan bahwa sosok Edy joenardi akan mengambil alih Persija, maka saya sangat antusias dengan berita dari Ismed tersebut. Yang ada di benak saya adalah Pak Edy mewakili Persija akan berbicara dengan kami, tentu hal tersebut cukup menggembirakan…
Akan tetapi ketika kami bertemu, bukannya membicarakan tentang Persija akan tetapi Pak Edy malah membicarakan kemungkinan kami berempat untuk menjadi punggawa Persikad Depok. Sejujurnya saat itu saya sangat terkejut dan sedikit jengkel, oke dari segi materi memang mereka menawarkan nominal yang sangat tinggi, akan tetapi itu semua jauh dari apa yang ada dalam benak saya mengenai pertemuan siang itu…
Mengenai Selangor, ehm.. saya mempunyai kenangan yang indah bersama tim ini. Selangor adalah raksasa sepakbola Malaysia yang mempunyai sejarah panjang, 33 kali juara Piala Malaysia adalah buktinya. Akan selalu menyenangkan dapat kembali ke sana, dan itu adalah salah satu alasan saya menerima ajakan Selangor untuk bermain dalam Piala Selangor melawan Persib Bandung. Suasana Stadion Shah Alam tidak pernah berubah, malam itu kenangan 3 tahun yang lalu seakan terulang kembali, apalagi malam itu saya mampu menyumbangkan 2 gol dan mengantar Selangor mengalahkan Persib Bandung…
Penawaran-penawaran di atas jelas membuat saya merasa sangat bimbang. Secara pribadi saya masih ingin bertahan di Persija, akan tetapi tim ini terkesan pasif dengan tidak segera memberikan kabar. Sejujurnya, saya hampir saja bergabung dengan Sriwijaya FC, melalui Pak Bakti saya sempat menyampaikan bahwa 80% saya bersedia bergabung dengan mereka, akan tetapi saya meminta waktu untuk meyakinkan hati saya, bahwa pada akhirnya saya harus membela tim lain selain Persija di Indonesia…
Saya juga menyampaikan, jika Sriwijaya masih mau menunggu, maka saya akan berterima kasih, akan tetapi jika Sriwijaya memutuskan untuk membatalkan rencana mereka, saya juga bisa menerima keputusan itu. Setelah itu Sriwijaya tidak pernah lagi menghubungi saya, sehingga saya anggap mereka membatalkan rencana untuk merekrut diri saya…
Mengenai Persib Bandung, apa yang terjadi lebih kepada saya tidak ingin mengkhianati diri saya, Persija dan The Jakmania. Karena tentu akan sangat menyakitkan buat semua pihak, jika saya sampai bergabung dengan Persib Bandung, mengingat rivalitas antara Persija dan Persib sudah menjadi tradisi serta begitu mengakar…
Untuk Persikad Depok, bukannya saya anti untuk berlaga di divisi utama. Akan tetapi, saya masih berkeinginan untuk bermain di level Liga Super. Di samping untuk merasakan atmosfer yang jelas lebih menantang, lebih daripada itu saya ingin menjaga peluang saya untuk tetap bisa membela Tim Nasional Indonesia. Sehingga nominal tinggi yang mereka ajukan, sama sekali tidak membuat diri saya bergeming…
Mengenai Selangor sendiri, mereka memang sudah membicarakan kemungkinan saya untuk kembali. Akan tetapi, masalah terbesarnya adalah regulasi di Malaysia, yang belum bisa memastikan jika kompetisi Malaysian Super League boleh menggunakan pemain asing kembali atau tidak. Hal tersebut baru akan dibicarakan lagi setelah musim ini berakhir. Sedangkan Malaysian Super League sendiri baru akan berakhir bulan Oktober, sehingga akan sangat terlambat bagi saya pribadi untuk mengambil keputusan tersebut…
Terlebih lagi mengingat akhir-akhir ini hubungan Indonesia-Malaysia yang semakin memanas, sehingga membuat saya dan keluarga akan merasa sedikit kurang nyaman dengan situasi ini, jika nantinya saya memutuskan bermain di sana kembali…
Dengan pertimbangan di atas, akhirnya saya menetapkan hati untuk bertahan di Persija dengan apa pun konsekuensinya .Dan gayung pun bersambut, pada suatu pagi saya dan Ismed sofyan didampingi Bung Ferry, mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Pak Harianto Bajoeri dan Pak Gubernur Fauzi Bowo, guna menanyakan serta membahas kelangsungan tim Persija selepas gagalnya Edy Joenardi Group mengakuisi Persija. Dan tanpa menunggu waktu lama, Bang Foke langsung memberikan instruksi kepada Pak Harianto Bajoeri untuk segera membentuk tim Persija untuk mengarungi kompetisi ISL musim depan…
Mungkin dari segi nominal harga, apa yg akan saya dapatkan di Persija masih di bawah apa yg ditawarkan Sriwijaya, Persikad, Selangor FC atau bahkan di bawah pendapatan saya musim lalu. Dari segi materi tim dan peluang juara, mungkin Sriwijaya dan Persib sedikit di atas, yang memang sangat terlambat dalam membentuk tim. Dari segi tantangan, mungkin Sriwijaya dan Selangor akan memberikan saya pengalaman yang sangat berharga, dengan tampil di Asian Champions League musim depan. Akan tetapi semua itu dapat saya kesampingkan karena “Kecintaan saya terhadap Persija”…
Saya pasti bangga jika mampu menjadi juara dan tampil di Asian Champions League bersama Sriwijaya FC atau Selangor FC. Akan tetapi, saya pasti akan merasa lebih bangga jika saya mampu meraih itu semua bersama Persija Jakarta, tim yang telah membesarkan nama saya dan telah memberikan banyak hal kepada perkembangan karir saya…
Persija memang tengah mengalami krisis finansial, sehingga tidak mampu memberi seperti apa yang tim lain mampu berikan kepada saya. Akan tetapi sekali lagi, selama 9 musim saya bermain untuk Persija, tim ini telah memberikan banyak hal kepada diri saya. Sehingga tidak ada salahnya, jika di saat tim ini sedang mengalami masalah dan sedikit terpuruk, saya melakukan sedikit hal yang saya mampu, untuk balik menolong tim ini…
Saya rela memotong pendapatan saya, agar Persija mampu mendatangkan pemain baru yang berkualitas, guna menyongsong musim baru nanti. Sehingga Persija tetap mampu bersaing memburu gelar terbaik di musim depan…
Ternyata memang benar pepatah yg mengatak bahwa: “Cinta Itu Buta” dan pada kenyataannya..
“CINTA ITU MENGALAHKAN SEGALANYA”…
sumber : www.bambangpamungkas20.com
Persija vs Persib (25-03-2010)
Persija vs Persib (25-03-2010)
Ditulis Oleh Christine Elke
Bagi sebagian orang tanggal ini mungkin biasa, tak ada yang istimewa namun tidak untuk saya dan teman-teman saya yang tinggal di Cilegon ini. Suatu kota kecil di ujung Indonesia, yang tak sebanding dengan Ibu Kota. Yah, Jakarta ibuKota negara saya Indonesia dengan tim kebanggaan sebagian masyarakatnya yaitu Persija Jakarta. Tim bertabur bintang yang kurang diperhatikan. Terlalu banyak masalah nonteknis di dalam kubu ini sehingga tak jarang berpengaruh pada saat tim bertanding.
Pagi ini cuaca sedikit mendung walau pun tidak hujan. Saya bersemangat bangun pagi dan siap-siap menuju stadion kebanggaan seluruh masyaraat Indonesia yaitu Gelora Bung Karno untuk menyaksikan lanjutan pertandingan Indonesia Super League.
Izin dari orang tua untuk menyaksikan pertandingan ini pun susah saya dapatkan, ternyata bukan hanya saya sebagian dari teman saya pun susah untuk meyakinkan kepada kedua orang tuanya bahwa pada pertandingan nanti tidak akan terjadi apa-apa.
Cukup lama meyakinkan orang tua saya, kurang lebih 4 hari sebelum pertandingan saya "mencari muka" di depan orang tua saya agar diizinkan untuk pergi ke GBK. Alasan orang tua saya pun beragam, dari jarak yang lumayan jauh, takutnya ada bentrok antar supporter, dan alasan yang membuat saya jengkel karena saya seorang perempuan.. emmmmm… Andai orang tua saya memiliki ikatan dalam dunia bola tentu saya akan setiap pertandingan tak absen pergi mendukung Tim Persija.
Walau saya pesimis akan diijinkan namun entah apa yang menyambar hati kedua orang tua saya, kata ‘iya’ pun terucap dari mulut mereka. Senang,..? Ya saya senang, kalo boleh jujur rasa senang itu mungkin sampai tak tergambarkan. Ini kali pertama saya menginjak GBK pada saat Persija berlaga. Saya pun tak ingin menyiya-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh kedua orang tua saya.
Saya sangat berharap pada pertandingan ini tidak ada gesekan antar supporter sama sekali. Saya ingin membuktikan kepada kedua orang tua saya bahwa apa yang mereka bayangkan di GBK saat Persija bermain tak mengerikan seperti gambaran mereka selama ini.
Alhasil saya pun pergi ke GBK dengan "semangat 45" mendukung tim Persija yang akan berlaga sore ini. Pada hari ini kick off dimulai jam 4.00 sore. Pertandingan nya pun sangat menarik ditonton, jual beli seragan kedua tim ini sangat asik dilihat. Walau emosi pemain di dalam lapangan sempat meledak ketika ada pelanggaran. Sedikit terlihat puing-puing botol plastik berterbangan ke pinggir lapangan. Sedikit terdengar yel rasis walau dinyayikan hanya sebentar dan oleh segerombolan saja, tapi saya salut dengan kesigapan dirijen yang langsung mengkordinir yel-yel lain agar yel rasis tersebut tak terdengar / tertutup.
Pertandingan sore ini berakhir dengan skor 2-2… Walau Persija sempat tertinggal terlebih dahulu tapi gol Aliyudin dan Abanda merontokkan poin penuh yang didapatkan tim tamu. Jam menunjuk pukul 6.00 sore, saya pun tak dapat langsung pulang. Tertahan di parkiran kurang lebih 1 jam namun justru di sini saya mendapatkan kepuasan melihat lebih fanatiknya supporter di luar lapangan. Mereka tetap bernyanyi, bersorak, bergembira walau Persija hanya bisa mencuri 1 poin. Tak ada raut sedih, putus asa, amarah di muka mereka justru mereka mencerminkan kepuasan batin melihat Persija Jakarta bertanding pada hari ini. Mereka pun tak segan menyapa saya dan teman-teman saya walau kami tak saling kenal.
Ini pembuktian, bahwa tak begitu menyeramkan datang langsung mendukung tim kebanggaan ke stadion. Mungkin di luar sana citra tauran dan rusuh telah tercap di nama kami sebagai supporter, namun jika Anda lihat sendiri dengan langsung tidak semua supporter brutal. Ini semua menurut saya tergantung pada diri kita sendiri sebagai supporter. Saya yakin kalau niat kita dari rumah tulus mendukung Tim Kebangga’an kita yang akan bertanding, membeli tiket tanpa menunggu jebolan, bersikap saling menghormati sama sekali tak ada kata mengerikan pada suatu pertandingan sepak bola.
Saya pun menceritakan kepada kedua orang tua saya, bahwa GBK lumayan bersahabat dengan saya dan teman-teman. Selama saya di sana tidak ada gangguan sama sekali, saya pun sampai di rumah dengan selamat tanpa lecet atau goresan sama sekali. Saya mengatakan kepada orang tua saya bahwa sepakbola bukanlah hal mengerikan, bahkan di sebelah parkiran mobil saya terdapat sebuah mobil yang berisi sekeluarga dengan anak-anaknya lengkap dengan atribut menuju GBK. Saya harap ini pertanda kebangkitan bagi sepakbola Indonesia. Dimana sepakbola bukanlah hal yang menakutkan untuk orang tua melarang anaknya hadir di stadion tapi sepakbola adalah suatu alat komunikasi atau pendekatan anak dan orang tua.*Elke
Sampai kapan SepakBola di takuti oleh orang tua..?
Sampai kapan orang tua melarang anaknya..??
Sampai kapan sang anak di izinkan langsung ke stadion..???
Hanya kita yang bisa menjawab, kita yang bisa meyakini, dan kita yang bisa memulai.
MERDEKA… ^^
Ditulis Oleh Christine Elke
Bagi sebagian orang tanggal ini mungkin biasa, tak ada yang istimewa namun tidak untuk saya dan teman-teman saya yang tinggal di Cilegon ini. Suatu kota kecil di ujung Indonesia, yang tak sebanding dengan Ibu Kota. Yah, Jakarta ibuKota negara saya Indonesia dengan tim kebanggaan sebagian masyarakatnya yaitu Persija Jakarta. Tim bertabur bintang yang kurang diperhatikan. Terlalu banyak masalah nonteknis di dalam kubu ini sehingga tak jarang berpengaruh pada saat tim bertanding.
Pagi ini cuaca sedikit mendung walau pun tidak hujan. Saya bersemangat bangun pagi dan siap-siap menuju stadion kebanggaan seluruh masyaraat Indonesia yaitu Gelora Bung Karno untuk menyaksikan lanjutan pertandingan Indonesia Super League.
Izin dari orang tua untuk menyaksikan pertandingan ini pun susah saya dapatkan, ternyata bukan hanya saya sebagian dari teman saya pun susah untuk meyakinkan kepada kedua orang tuanya bahwa pada pertandingan nanti tidak akan terjadi apa-apa.
Cukup lama meyakinkan orang tua saya, kurang lebih 4 hari sebelum pertandingan saya "mencari muka" di depan orang tua saya agar diizinkan untuk pergi ke GBK. Alasan orang tua saya pun beragam, dari jarak yang lumayan jauh, takutnya ada bentrok antar supporter, dan alasan yang membuat saya jengkel karena saya seorang perempuan.. emmmmm… Andai orang tua saya memiliki ikatan dalam dunia bola tentu saya akan setiap pertandingan tak absen pergi mendukung Tim Persija.
Walau saya pesimis akan diijinkan namun entah apa yang menyambar hati kedua orang tua saya, kata ‘iya’ pun terucap dari mulut mereka. Senang,..? Ya saya senang, kalo boleh jujur rasa senang itu mungkin sampai tak tergambarkan. Ini kali pertama saya menginjak GBK pada saat Persija berlaga. Saya pun tak ingin menyiya-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh kedua orang tua saya.
Saya sangat berharap pada pertandingan ini tidak ada gesekan antar supporter sama sekali. Saya ingin membuktikan kepada kedua orang tua saya bahwa apa yang mereka bayangkan di GBK saat Persija bermain tak mengerikan seperti gambaran mereka selama ini.
Alhasil saya pun pergi ke GBK dengan "semangat 45" mendukung tim Persija yang akan berlaga sore ini. Pada hari ini kick off dimulai jam 4.00 sore. Pertandingan nya pun sangat menarik ditonton, jual beli seragan kedua tim ini sangat asik dilihat. Walau emosi pemain di dalam lapangan sempat meledak ketika ada pelanggaran. Sedikit terlihat puing-puing botol plastik berterbangan ke pinggir lapangan. Sedikit terdengar yel rasis walau dinyayikan hanya sebentar dan oleh segerombolan saja, tapi saya salut dengan kesigapan dirijen yang langsung mengkordinir yel-yel lain agar yel rasis tersebut tak terdengar / tertutup.
Pertandingan sore ini berakhir dengan skor 2-2… Walau Persija sempat tertinggal terlebih dahulu tapi gol Aliyudin dan Abanda merontokkan poin penuh yang didapatkan tim tamu. Jam menunjuk pukul 6.00 sore, saya pun tak dapat langsung pulang. Tertahan di parkiran kurang lebih 1 jam namun justru di sini saya mendapatkan kepuasan melihat lebih fanatiknya supporter di luar lapangan. Mereka tetap bernyanyi, bersorak, bergembira walau Persija hanya bisa mencuri 1 poin. Tak ada raut sedih, putus asa, amarah di muka mereka justru mereka mencerminkan kepuasan batin melihat Persija Jakarta bertanding pada hari ini. Mereka pun tak segan menyapa saya dan teman-teman saya walau kami tak saling kenal.
Ini pembuktian, bahwa tak begitu menyeramkan datang langsung mendukung tim kebanggaan ke stadion. Mungkin di luar sana citra tauran dan rusuh telah tercap di nama kami sebagai supporter, namun jika Anda lihat sendiri dengan langsung tidak semua supporter brutal. Ini semua menurut saya tergantung pada diri kita sendiri sebagai supporter. Saya yakin kalau niat kita dari rumah tulus mendukung Tim Kebangga’an kita yang akan bertanding, membeli tiket tanpa menunggu jebolan, bersikap saling menghormati sama sekali tak ada kata mengerikan pada suatu pertandingan sepak bola.
Saya pun menceritakan kepada kedua orang tua saya, bahwa GBK lumayan bersahabat dengan saya dan teman-teman. Selama saya di sana tidak ada gangguan sama sekali, saya pun sampai di rumah dengan selamat tanpa lecet atau goresan sama sekali. Saya mengatakan kepada orang tua saya bahwa sepakbola bukanlah hal mengerikan, bahkan di sebelah parkiran mobil saya terdapat sebuah mobil yang berisi sekeluarga dengan anak-anaknya lengkap dengan atribut menuju GBK. Saya harap ini pertanda kebangkitan bagi sepakbola Indonesia. Dimana sepakbola bukanlah hal yang menakutkan untuk orang tua melarang anaknya hadir di stadion tapi sepakbola adalah suatu alat komunikasi atau pendekatan anak dan orang tua.*Elke
Sampai kapan SepakBola di takuti oleh orang tua..?
Sampai kapan orang tua melarang anaknya..??
Sampai kapan sang anak di izinkan langsung ke stadion..???
Hanya kita yang bisa menjawab, kita yang bisa meyakini, dan kita yang bisa memulai.
MERDEKA… ^^
Tetap Semangat Cah Getas
Tetap Semangat Cah Getas
Ditulis Oleh Bambang Pamungkas
Apa yang sedang terjadi dengan Bambang Pamungkas..??
Pertanyaan itu mungkin menjadi isu utama di kalangan masyarakat sepakbola Indonesia akhir-akhir ini. Sebuah pertanyaan yang sejujurnya juga ada dalam benak saya sendiri, tidak pernah lagi mencetak gol selama kurang lebih 2,5 bulan membuat orang mulai meragukan kapasitas saya sebagai pesepakbola, khususnya sebagai seorang striker…
Sangat logis dan wajar hal tersebut mengemuka. Mengingat di dunia manapun seorang striker selalu dinilai dari berapa gol yang mampu mereka ciptakan, bukan dari seberapa besar peran orang tersebut dalam menunjang permainan tim…
Sejujurnya semua ini berawal dari sebuah kejenuhan. Seperti yang pernah saya kemukanan dahulu, jika musuh terbesar seorang pesepakbola ada 2 hal, yaitu cedera dan kejenuhan. Oleh karena itu seperti yang Anda ketahui, saya adalah pesepakbola yang tidak suka melihat pertandingan sepakbola…
Mengapa…??? Sebenarnya saya melakukan itu untuk menghindari faktor kejenuhan pada diri saya. Bayangkan jika setiap hari saya harus bergelut dengan sepak bola, dan ketika istirahat pun saya masih harus melihat pertandingan sepakbola, maka alangkah membosankannya hidup saya…
Selama 3 tahun terakhir saya hampir tidak pernah memiliki waktu untuk berlibur dari dunia sepakbola, ketika Liga Indonesia istirahat maka secara otomatis saya harus bergabung bersama Tim Nasional Indonesia. Hal tersebut terjadi secara terus menerus, hal tersebut membuat saya penat dan jenuh secara psikologis…
Kejenuhan yang saya alami beberapa waktu yang lalu membuat saya agak sedikit susah untuk berkonsentrasi dalam pertandingan. Hasilnya permainan saya pun sedikit turun dari level saya biasanya, kehilangan konsentrasi itu berdampak pada penyelesaian akhir saya yang tidak mampu menemukan sentuhan terbaik…
Selanjutnya kegagalan demi kegagalan untuk memanfaatkan peluang perlahan-lahan mulai mengikis rasa percaya diri saya di mulut gawang lawan.
Semakin saya merasa ingin segera mencetak gol, semakin saya menjadi terburu-buru dan tanpa perhitungan yang matang, sehingga mengurangi akurasi saya dalam melakukan penyelesaian akhir….
Sejujurnya kejadian ini bukanlah yang pertama menimpa diri saya. Bagi Anda yang masih ingat, pada musim 2001 saya juga pernah mengalami hal yang sama. Saat itu saya tidak mampu mencetak gol dalam kurun waktu 15 pertandingan, bahkan saat itu saya sempat menolak panggilan pelatih Tim Nasional saat itu (Benny Dollo) untuk bergabung dalam rangka Pra Piala Dunia 2002…
Saya menolak bergabung, karena saat itu secara fair harus saya katakan bahwa saya tidak dalam kondisi terbaik. Saat itu saya berpendapat jika pemain lain seperti Zainal Arief, Ilham Jayakesuma, Budhi Soedharsono dan Gendut Dony lebih siap secara mental dan psikologis dari pada saya.
Akan tetapi pada akhirnya rasa tanggung jawab terhadap profesi, yang membuat saya luluh dan memutuskan untuk bergabung dalam tim…
Saat itu kesabaran dan ketekunan untuk terus berusaha adalah kunci saya keluar dari situasi sulit. Terus berusaha dalam setiap kesempatan, dengan tanpa ada rasa terburu-buru serta tetap memelihara rasa optimis yang tinggi. Ketika saatnya datang maka gol itu akan lahir dengan sendirinya…
Dan ketika saya mencetak gol pertama saya, yaitu saat Persija di jamu PSBL Lampung di Lampung (3-1 saat itu saya mencetak 2 gol) dan sejak pertandingan itu saya kembali mampu mencetak gol dalam setiap pertandingan Persija. Dan pada akhirnya saya mampu membawa Persija menjuarai Liga Indonesia serta mampu menjadi pemain terbaik di tahun yang sama…
Di belahan dunia manapun, setiap pemain pasti pernah mengalami saat-saat dimana pemain tersebut jenuh dan kehilangan sentuhan, bagi pesepakbola hal tersebut adalah hal yang wajar. Contoh kecil adalah hal yang menimpa Cristian Gonzales (Persib Bandung) di putaran pertama lalu. El Loco sempat tidak mampu mencetak gol dalam 14 pertandingan. Akan tetapi ketika saatnya tiba, maka dia tidak akan berhenti untuk mendulang gol bagi Persib…
Sejujurnya hal ini juga sedang menimpa beberapa striker di Indonesia saat ini, akan tetapi berita itu tidak sesanter pemberitaan tentang saya, karena mungkin publik lebih menumpukan perhatian kepada saya, yang notabene sebagai pemain nasional…
Seorang sahabat saya pernah mengatakan “Sebagai public figure kita akan selalu diletakkan di atas Microscope” yang artinya kurang lebih, apapun yang terjadi pada diri kita akan dinilai masyarakat dan juga akan menjadi konsumsi publik. Terlebih lagi jika hal tersebut bermuatan negatif. Itu adalah sebuah konsekuensi yang harus dihadapi…
Secara pribadi saya katakan jika saya baik-baik saja, rasa khawatir itu memang ada, akan tetapi saya masih yakin dengan kemampuan yang saya miliki. Semua itu kembali kepada diri saya, di sini saya ditantang untuk mempertaruhkan reputasi yang telah saya bangun selama 12 tahun berkarir di dunia sepakbola…
Dan pada akhirnya semua itu kembali pada diri saya sendiri, bukan orang lain. Saya sendiri yang harus berusaha keras untuk mengembalikan level permainan saya. Dan sejujurnya dalam beberapa pertandingan terakhir, saya sudah mulai dapat menikmati lagi permainan ini, saya sudah kembali mampu berperan dalam menunjang strategi tim, yang belum datang hanyalah gol itu sendiri…
Sebelas pemain di dalam lapangan adalah kumpulan dari kepingan puzzle yang berserakan. Yang terpenting adalah bagaimana setiap individu menempatkan diri sesuai dengan skema gambar yang diinginkan seorang pelatih, sehingga pada akhirnya gambar itu akan terlihat dengan jelas dan indah…
Jika selama ini saya bagaikan sekeping puzzle yang salah tempat, maka apa yang ada dalam benak saya saat ini adalah, bagaimana membuat diri saya melakukan peran saya secara baik dan benar sesuai dengan skema dalam tim. Saya ingin menjadi kepingan puzzle di tempat yang tepat, itu dahulu awalnya. Dan jika saya sudah mampu melakukannya, maka lambat laun level permainan itu akan kembali dan Insya Allah saya akan mampu kembali mencetak gol dalam waktu dekat…
Pada akhir artikel ini, perbolehkan saya untuk mengutip sepenggal sajak dari seorang penyair terkenal dari Jerman yang bernama Friedrich Schiller. Penggalan sajak tersebut juga terdapat dalam 2 buah surat, yang ditulis oleh Bung Sutan Sjahrir ketika beliau dipenjara dan diasingkan di Cipinang dan Boven Digoel…
Sebuah sajak yang jika kita perhatikan secara seksama, mempunyai arti tersirat yang sangat mendalam. Sepenggal sajak yang pada teks aslinya berbahasa Jerman itu berbunyi demikian…
“Und setzt ihr das leben ein, nie wird euch das leben gewonnen sein / Life that is not put at stake, will not be won / Hidup yg tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan” Friedrich Sciller (1723 - 1796)
Ini adalah bagian dari pertaruhan diri saya, pertaruhan dari reputasi yang saya bangun selama ini. Memang tidak semua pertempuran dalam hidup saya mampu saya menangkan, akan tetapi setidaknya saya selalu mampu mengeluarkan kemampuan terbaik saya untuk berjuang melawan. Itu membuat saya selalu merasa puas dengan segala hal yg terjadi dalam hidup saya…
Berbalik arah dan berlari jelas bukan karakter seorang Bambang Pamungkas. Maka mari kita lihat, apakah nantinya saya mampu mengembalikan reputasi saya…??? Sekali lagi semua itu kembali kepada diri saya sendiri.. Tetap Semangat Cah Getas…!!!!
Selesai…
Tulisan ini diambil dari website pribadi Bambang Pamungkas. http://bambangpamungkas20.com/bepe/?p=291
Ditulis Oleh Bambang Pamungkas
Apa yang sedang terjadi dengan Bambang Pamungkas..??
Pertanyaan itu mungkin menjadi isu utama di kalangan masyarakat sepakbola Indonesia akhir-akhir ini. Sebuah pertanyaan yang sejujurnya juga ada dalam benak saya sendiri, tidak pernah lagi mencetak gol selama kurang lebih 2,5 bulan membuat orang mulai meragukan kapasitas saya sebagai pesepakbola, khususnya sebagai seorang striker…
Sangat logis dan wajar hal tersebut mengemuka. Mengingat di dunia manapun seorang striker selalu dinilai dari berapa gol yang mampu mereka ciptakan, bukan dari seberapa besar peran orang tersebut dalam menunjang permainan tim…
Sejujurnya semua ini berawal dari sebuah kejenuhan. Seperti yang pernah saya kemukanan dahulu, jika musuh terbesar seorang pesepakbola ada 2 hal, yaitu cedera dan kejenuhan. Oleh karena itu seperti yang Anda ketahui, saya adalah pesepakbola yang tidak suka melihat pertandingan sepakbola…
Mengapa…??? Sebenarnya saya melakukan itu untuk menghindari faktor kejenuhan pada diri saya. Bayangkan jika setiap hari saya harus bergelut dengan sepak bola, dan ketika istirahat pun saya masih harus melihat pertandingan sepakbola, maka alangkah membosankannya hidup saya…
Selama 3 tahun terakhir saya hampir tidak pernah memiliki waktu untuk berlibur dari dunia sepakbola, ketika Liga Indonesia istirahat maka secara otomatis saya harus bergabung bersama Tim Nasional Indonesia. Hal tersebut terjadi secara terus menerus, hal tersebut membuat saya penat dan jenuh secara psikologis…
Kejenuhan yang saya alami beberapa waktu yang lalu membuat saya agak sedikit susah untuk berkonsentrasi dalam pertandingan. Hasilnya permainan saya pun sedikit turun dari level saya biasanya, kehilangan konsentrasi itu berdampak pada penyelesaian akhir saya yang tidak mampu menemukan sentuhan terbaik…
Selanjutnya kegagalan demi kegagalan untuk memanfaatkan peluang perlahan-lahan mulai mengikis rasa percaya diri saya di mulut gawang lawan.
Semakin saya merasa ingin segera mencetak gol, semakin saya menjadi terburu-buru dan tanpa perhitungan yang matang, sehingga mengurangi akurasi saya dalam melakukan penyelesaian akhir….
Sejujurnya kejadian ini bukanlah yang pertama menimpa diri saya. Bagi Anda yang masih ingat, pada musim 2001 saya juga pernah mengalami hal yang sama. Saat itu saya tidak mampu mencetak gol dalam kurun waktu 15 pertandingan, bahkan saat itu saya sempat menolak panggilan pelatih Tim Nasional saat itu (Benny Dollo) untuk bergabung dalam rangka Pra Piala Dunia 2002…
Saya menolak bergabung, karena saat itu secara fair harus saya katakan bahwa saya tidak dalam kondisi terbaik. Saat itu saya berpendapat jika pemain lain seperti Zainal Arief, Ilham Jayakesuma, Budhi Soedharsono dan Gendut Dony lebih siap secara mental dan psikologis dari pada saya.
Akan tetapi pada akhirnya rasa tanggung jawab terhadap profesi, yang membuat saya luluh dan memutuskan untuk bergabung dalam tim…
Saat itu kesabaran dan ketekunan untuk terus berusaha adalah kunci saya keluar dari situasi sulit. Terus berusaha dalam setiap kesempatan, dengan tanpa ada rasa terburu-buru serta tetap memelihara rasa optimis yang tinggi. Ketika saatnya datang maka gol itu akan lahir dengan sendirinya…
Dan ketika saya mencetak gol pertama saya, yaitu saat Persija di jamu PSBL Lampung di Lampung (3-1 saat itu saya mencetak 2 gol) dan sejak pertandingan itu saya kembali mampu mencetak gol dalam setiap pertandingan Persija. Dan pada akhirnya saya mampu membawa Persija menjuarai Liga Indonesia serta mampu menjadi pemain terbaik di tahun yang sama…
Di belahan dunia manapun, setiap pemain pasti pernah mengalami saat-saat dimana pemain tersebut jenuh dan kehilangan sentuhan, bagi pesepakbola hal tersebut adalah hal yang wajar. Contoh kecil adalah hal yang menimpa Cristian Gonzales (Persib Bandung) di putaran pertama lalu. El Loco sempat tidak mampu mencetak gol dalam 14 pertandingan. Akan tetapi ketika saatnya tiba, maka dia tidak akan berhenti untuk mendulang gol bagi Persib…
Sejujurnya hal ini juga sedang menimpa beberapa striker di Indonesia saat ini, akan tetapi berita itu tidak sesanter pemberitaan tentang saya, karena mungkin publik lebih menumpukan perhatian kepada saya, yang notabene sebagai pemain nasional…
Seorang sahabat saya pernah mengatakan “Sebagai public figure kita akan selalu diletakkan di atas Microscope” yang artinya kurang lebih, apapun yang terjadi pada diri kita akan dinilai masyarakat dan juga akan menjadi konsumsi publik. Terlebih lagi jika hal tersebut bermuatan negatif. Itu adalah sebuah konsekuensi yang harus dihadapi…
Secara pribadi saya katakan jika saya baik-baik saja, rasa khawatir itu memang ada, akan tetapi saya masih yakin dengan kemampuan yang saya miliki. Semua itu kembali kepada diri saya, di sini saya ditantang untuk mempertaruhkan reputasi yang telah saya bangun selama 12 tahun berkarir di dunia sepakbola…
Dan pada akhirnya semua itu kembali pada diri saya sendiri, bukan orang lain. Saya sendiri yang harus berusaha keras untuk mengembalikan level permainan saya. Dan sejujurnya dalam beberapa pertandingan terakhir, saya sudah mulai dapat menikmati lagi permainan ini, saya sudah kembali mampu berperan dalam menunjang strategi tim, yang belum datang hanyalah gol itu sendiri…
Sebelas pemain di dalam lapangan adalah kumpulan dari kepingan puzzle yang berserakan. Yang terpenting adalah bagaimana setiap individu menempatkan diri sesuai dengan skema gambar yang diinginkan seorang pelatih, sehingga pada akhirnya gambar itu akan terlihat dengan jelas dan indah…
Jika selama ini saya bagaikan sekeping puzzle yang salah tempat, maka apa yang ada dalam benak saya saat ini adalah, bagaimana membuat diri saya melakukan peran saya secara baik dan benar sesuai dengan skema dalam tim. Saya ingin menjadi kepingan puzzle di tempat yang tepat, itu dahulu awalnya. Dan jika saya sudah mampu melakukannya, maka lambat laun level permainan itu akan kembali dan Insya Allah saya akan mampu kembali mencetak gol dalam waktu dekat…
Pada akhir artikel ini, perbolehkan saya untuk mengutip sepenggal sajak dari seorang penyair terkenal dari Jerman yang bernama Friedrich Schiller. Penggalan sajak tersebut juga terdapat dalam 2 buah surat, yang ditulis oleh Bung Sutan Sjahrir ketika beliau dipenjara dan diasingkan di Cipinang dan Boven Digoel…
Sebuah sajak yang jika kita perhatikan secara seksama, mempunyai arti tersirat yang sangat mendalam. Sepenggal sajak yang pada teks aslinya berbahasa Jerman itu berbunyi demikian…
“Und setzt ihr das leben ein, nie wird euch das leben gewonnen sein / Life that is not put at stake, will not be won / Hidup yg tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan” Friedrich Sciller (1723 - 1796)
Ini adalah bagian dari pertaruhan diri saya, pertaruhan dari reputasi yang saya bangun selama ini. Memang tidak semua pertempuran dalam hidup saya mampu saya menangkan, akan tetapi setidaknya saya selalu mampu mengeluarkan kemampuan terbaik saya untuk berjuang melawan. Itu membuat saya selalu merasa puas dengan segala hal yg terjadi dalam hidup saya…
Berbalik arah dan berlari jelas bukan karakter seorang Bambang Pamungkas. Maka mari kita lihat, apakah nantinya saya mampu mengembalikan reputasi saya…??? Sekali lagi semua itu kembali kepada diri saya sendiri.. Tetap Semangat Cah Getas…!!!!
Selesai…
Tulisan ini diambil dari website pribadi Bambang Pamungkas. http://bambangpamungkas20.com/bepe/?p=291
Langganan:
Postingan (Atom)
PERSIJA
